Minggu, 31 Januari 2016

"Akhir Sebuah Mimpi"

Kenapa puan tidak mengakhiri,
Perbincangan rutin kala pagi.
Bahkan sampai tak sadarkan diri.
Berlarut-larut hingga terbenam matahari.

Tunggu saja senja menutup pintu
Biar rembulan tau,
Mentari ingin lebih lama,
bersinar dikedua bola mata.

Kenapa puan tidak mengakhiri,
Rindu yang terus menggelayuti
atau, gilas habis semua mimpi
sebelum ia bertunas duri.

Sudah puan,
Hatiku tak mengapa
Tujuan,
Tak lagi bernama cinta.

Kamis, 21 Januari 2016

"Nyanyian Sendu"

Lagu itu terdengar haru biru
Sejalan dengan waktu
Ingin ku patahkan
Tiap-tiap jarum didetakkan

Semakin berputar,
Semakin percuma.
Wajahmu masih tampak samar.

Berjuta bahasa
Beribu tegur sapa
Tak pernah terbata-bata
Lancang terus berbicara

Bahwa ada rindu, sembunyi bersama pilu.
Diujung sebuah nyanyian sendu.

Selasa, 12 Januari 2016

"Sebuah Ranting"

Hanya seperti itu ranting
Aku tak harus jadi penting

Melihat daun bercumbu embun
Bahkan sebelum menjadi ranum
Sungguh begitu anggun
Tanpa tersentak kagum

Tak pernah ia sengaja
Patah karena goresan luka
Terbentang tegak lurus
Walau pedang dihunus

Tenang, tenang,
Biar daun bergoyang
Aku sudah terbiasa
Hambar hidup tak berasa

Sabtu, 02 Januari 2016

"Kau dan Aku"

Kau pukul aku dari belakang,
Aku tinju kau dengan pedang.
Kau seperti pemburu usang,
Aku akan lebih jalang dari binatang.

Kau menjelma pasukan perang,
Aku ada untuk menghadang.
Kau nyalakan api kemarahan,
Aku sirami tetes perdamaian.

Kawan,
Kau lucuti aku dengan belati,
Aku tak akan melangkah pergi.

Bahu membahu mengejar mimpi
Meski tak jarang berebut nasi
Kebersamaan dilarang berhenti
Kau dan aku menunggu revolusi,
dari alam imaji menuju prestasi.

Jumat, 01 Januari 2016

"Lara"

Menuai duka
Menetes air mata

Luka,
Lebam bernanah dirasa
hanya ilusi saja
Biarlah ia

Do'a,
Ribuan kata
Bahkan semoga
'tuk jadi bahgia