Selasa, 19 Desember 2017

Senyum Yang Hilang

Syerina menari diatas kesedihannya sendiri. Meski menangis tersedu, namun hatinya bersorak ceria. Bagaikan pesta dalam ruangan minim cahaya. Ia terus menangis sampai habis pedih perih. Ia terus menitikkan air mata, sampai harus memungutnya kembali dan meneteskannya lagi dari matanya. Ia tak mudah dihentikan. Bahkan saat ada tontonan yang lucu pun ia terus menangis. Pokoknya menangis sejadi-jadinya.

Perihal apa yang dialaminya sungguh sangat aneh dan diluar batas kewajaran seseorang bila menangis. Ia sampai pingsan berkali-kali akibat menangis. Tapi begitu sadar, selang beberapa menit ia kembali menangis. Surti, bibinya yang tinggal satu rumah sangat amat kebingungan melihat keadaan keponakan perempuannya itu. Ia ingin menelepon orang tua syerina tapi tak punya kuota internet yang memadai. Kebetulan pula, pulsanya sudah habis sejak kemarin. Untuk beli pulsa lagi ia harus keluar dr desanya. Cukup jauh juga hanya untuk membeli pulsa.

Didesa itu memang syerina bersembunyi. Menghindari keramaian. Untuk apa ia kabur seorang diri? Jaeabannya tentu untuk menangis. Menangisi apa? Syerina belum bisa menjawabnya. Sementara surti, berusaha sekuat tenaga menenangkan syerina. "Kau cantik nak, tapi bila air matamu sudah kering." Ungkapnya. Kalimat itu sudah berulang kali diucapkannya ketika syerina tersadar dari pingsannya. Namun kelihatannya gombalan surti ditolak mentah-mentah. Tak mempan untuk sekedar menghentikan tangisannya.

Cukup beruntung rumah surti tak jadi korban. Minimal, tidak ada barang berharga dan mahal yang dibanting syerina. Ia sempat menyembunyikan foto suaminya yang ada di ruang tamu. Takut menjadi sasaran kemudian dibanting oleh syerina. Sebab foto itu sangat berharga bagi suaminya. Kenang-kenangan yang surti miliki sepeninggal sahrul merantau ke kota. Sahrul, suami surti berkali-kali menelepon, tapi ponsel surti sengaja di silent supaya tak terlacak oleh syerina. Takut juga kalau nanti terlihat olehnya, bisa dibanting pula. Dan pastinya, syerina pun takut kalau kalau bibinya menelepon orang tuanya.

Sudah hampir dua belas jam syerina menangis. Tangisannya memang tak sampai didengar oleh tetangga sebelah rumah. Lirih. Tapi air matanya terus berkelindan mengaliri pipi. Walau bagaimana pun, surti tetap tak tenang melihat ada orang menangis dirumahnya. Khawatir, apalagi syerina adalah keponakannya sendiri yang dulu pernah di asuhnya sebelum menikah dengan syahrul. Karena memeng, Suwardi, ayah syerina sibuk merantau pula. Sementara susi, ibunya ikut jadi tkw ke negara tetangga. Praktis, syerina hanya tinggal sendirian dirumahnya. Beruntung surti selaku adik dari bapaknya berkenan untuk merawat syerina.

Namun selepas surti menikah, kedua orang tua syerina pulang. Agaknya modal yang dibawa pulang dari perantauan dirasa cukup untuk memulai usaha dirumah. Surti pun ikut syahrul membangun keluarga baru. Letak rumahnya berjauhan dengan rumah syerina. Sekitar melewati satu bukit untuk masuk ke desa sebelah. Maka, surti sangat aman jika kabur ke rumah bibinya. Kabur kenapa kamu syerina? Kau mintaapa? Apa keinginanmu yang tak dituruti oleh kedua orang tuamu? Surti mulai kesal dengan syerina dan mencecarnya dengan beribu pertanyaan. Yang tentu saja tak ada jawaban dari syerina. Surti makin jengkel. Sementara syerina makin larut dalam tangisnya. Namun surti tetap tak menyerah.

Surti kembali mencari cara untuk menenangkan syerina. Seingatnya, syerina bukan anak yang cengeng semasa kecilnya. Tapi kenapa sekalinya surti melihatnya menagis, malah sampai kebablasan begini. Syerina yang surti kenal adalah anak kecil yang imut dan periang. Tingkah lakunya mampu menyihir kesedihan surti ketika ada masalah yang dialaminya. Tingkah polos anak kecil yang ceria dan tidak cengeng. Buktinya, saat surti melatih syerina naik sepeda dulu, ia sama sekali tak menangis saat terjatuh. Padahal luka dikakinya cukup parah akibat tergusur di atas jalanan yang masih berkerikil. Syerina menangis tak semudah ini.

Ia semakin tersedu dan matanya sudah sangat lelah meneteskan air mata mendengar bibinya terus menghujani pertanyaan pertanyaan perihal sebab menangisnya yang tahu waktu ini. Bukan jawaban yang ia berikan bukan pula gestur tubuh yang meminta sesuatu untuk diambilkan. Tisu sudah ada sejak permulaan tangisnya. Terus dipegang erat kotak tisue itu ditangannya. Tak pernah lepas. Entah usapan yang ke berapa yang ia lakukan untuk sejenak mengeringkan air mata di pipinya sendiri. Yang jelas, sudah hampir seratus lembar tisue yang berserakan dilantai. Surti sendiri yang menghitungnya. Tidak masalah bagi surti kehabisan tisue. Ia lebih khawatir dengan kondisi syerina yang terlihat kantung matanya sudah bengkak hampir menutupi mata.

Syerina masih menangis. Surti makin sibuk dengan rasa khawatirnya. Ia tak lagi melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berjibun. Ia hanya sesekali mengelus punggung keponakannya itu. Karena hanya itu yang bisa surtu lakukan. Air putih untuk diminum syerina sudah tersedia diatas meja. Bahkan sudah bergelas-gelas ia habiskan. Satu gelas satu tegukan langsung melenggang mulus membasahi kerongkongannya. Namun air minum itu bagi syerina hanya sebatas isi ulang saja bagi air matanya agar dia tetap bisa menangis. Beruntung surti masih punya satu teko besar lagi air putih. Jadi tidak terlalu repot memasak air lagi. Tapi khawatir juga, kalau persediaan air minumnya habis dan syerina masih menangis. Karena sekarang pun belum ada tanda tanda tangisnya akan berhenti.

Surti mulai berfikir untuk menyediakan air minum lebih banyak lagi. Mengingat persediaannya tinggal satu teko, ia berinisiasi untuk memasak air minum yang lebih banyak. Sambil untuk persediaan air minum dirumahnya. Karena untuk memasak air dirumahnya, cukup sedikit merepotkan. Di desanya belum ada orang yang berjualan gas elpiji atau minyak tanah untuk menyalakan kompor. Dirumahnya masih sangat tradisional menggunakan tungku. Surti beranjak dari temoat duduk disebelah syerina untuk keluar mencari kayu lebih dulu sebelum memasak air. Di daerah pedalaman seperti ini tak sulit sulit amat mencari kayu bakar. Cukup keluar rumah, kayu ranting pohon yang sudah kering dan mematahkan diri berserakan diteras belakang rumahnya.

Sekitar lima menit surti kembali masuk rumah dengan kayu bakar sudah dibopong ditangannya. Surti menaruhnya didekat tungku dan menyukutnya dengan sebatang korek api. Sambil menunggu api menyala lebat, surti mengambil air dari sumur dengan mengerek tambang yang diujungnya terikat ember kecil. Sementara syerina masih menangis. Namun kali ini ia mulai bisa berfikir untuk membeberkan sebabnya kepada surti supaya bibinya itu tidak khawatir lagi.

"Tak perlu bibi memasak air lagi untukku. Aku sudah akan berhenti menangis. Kemarilah, bibi. Aku butuh pelukanmu." ucap syerina secara mengejutkan setelah syerina mendengar suara cipratan air didapur. Nampaknya ia mafhum, bibinya akan memasak air minum lagi untuknya. Ucapannya itu direspon langsung oleh surti dan kembali duduk disebelahnya untuk memberikan pelukan kepada anak dari kakaknya itu. Sambil mengelus rambut syerina, surti mulai bertanya "Kenapa kamu menangis sampai seperti ini nak?"
"Bibi, kau lihat ada yang hilang dari diriku?" syerina malah balik bertanyapada bibinya.

Surti menolehkan wajah syerina dihadapkan ke wajahnya untuk meyakinkan pada syerina bahwa tidak ada yang hilang darinya. "Kau masih cantik nak, berhentilah menangis dan tersenyumlah. Kau akan jauh terlihat lebih cantik". Terang surti.

"Itulah yang hilang dari diriku, bi."
"Senyum?" Jawab surti setengah bertanya pada syerina. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar