Minggu, 27 Desember 2015

"Bagi Negri"

Teruntuk para petinggi
Rakyat jelata meronta
Karena hanya teri
Serta duka dan air mata

Tak lebih yang dipinta,
Asa nan harapan kau sita.

Mari mari kita bagi
Jangan lupa raja diberi.

Kenapa tidak,
Tentara tak kentara,
Juga kena sidak.

Dinegri kaya raya
Rakyatnya pun bersahaja.
Sudah jelas dimata.
Siapa dibalik kaca.

Senin, 21 Desember 2015

"Bibir Tersungging Senyum"

Masih belum habis
Entah sampai kapan tak 'kan habis

Wanita itu sungguh mulia
Dari hilir ke hulu
Duka dipikul dipangku
Seluruh pinta dikata iya

Pada anak-anaknya

Dipeluk erat derita
Bertahan dengan cinta

Sepanjang bulan benderang terang
Berteduh riuh gemuruh keluh
Namun tak nampak tubuh
Sampai bisa malam ia seduh

Lalu,
"Ibu baik-baik saja nak"
Berkata dicekik air mata

 ff

Kamis, 17 Desember 2015

"Bukan Siapa-Siapa"


Terbangun aku mengerang
Sakit itu kembali datang
Menikam bak pemburu usang
Tak lupa iba pun menghilang

Dunia memilih satu
Ia tak sebodoh kerbau itu

Belalang tak pantas mengharap kembang
Lebah lebih berhak
Dipeluknya ia senang
Angin tidak ia mengoyak

ff


Untuk Adek

PUISI UNTUK ADEK

Bagai bibit padi
Kecil, sangat kecil
Amat sangat kecil
Lebih dari mimpi

Semangat kian menggelora
Demi tingginya asa
Sedia ia mengangkasa
Terbang tembus udara

Tersirat dengannya segala
Bahgia dalam do'a
Yang lancang terpanjat
Olehku, dipenghujung sholat

ff

"Jalan"

Sampai disitu terus berjalan
Melangkah tegak lurus
Tak tau kiri kanan
Angin silih berhembus

Tujuan masih beribu tapak
Terjal menghadang kelopak

Sudah tuan,
Ayunkan.
Topang badan.

Selama itu,
Sejauh itu,

Luka biarlah perih
Sampai darah bersedih

Kejar, ikat,
Sudah itu sampai dapat

ff

Puisi Rindu

RINDU

Tak perlu aku bertemu
Sendiri saja aku termangu
Menunggu, menunggu. Sudah itu sampai jemu
Dalam fikiran asyik membelenggu

Api membara membakar ada
Berdansa megah dengan alunan nada
Itu pun tak terasa di dada
Aku rindu kamu dinda

Hening tak enggan memekik
Angin, badan berdiri ia diterpa
Sepi tak ubah terus mengusik
Ruang hati yang kosong dan hampa

Lihat, bagaimana senja menerkam
Mengantar mentari ke pangkuan alam
Sendiri menikmati malam
Suara, teriak, lagu, cahya semua padam.

ff


Jumat, 11 Desember 2015

"Mawar Yang Memudar"

Satu-satu tangkai sendiri
Angin enggan berhenti
Menyayat mengoyak duri
Acuh bulan tahun berganti

Merah dulu sudah tak lagi
Suatu tempat entah perginya
Dibelakang berhias diri
Menunggu malam paginya

Ini bukan sandiwara sinema
Hati berkata terbata
Aku jatuh cinta

ff

Selasa, 08 Desember 2015

"Manusia Dalam Selimut"

Tak butuh prestasi
Pun juga apresiasi

Adanya tak lagi ada
Meninggalkan yang masih ada
Memberi bahkan mengasihi
Sesama saling berbagi

Tuhan terlanjur sayang
Rindunya tak lagi terhalang
Coba dan uji diberi
Iman sudah kebal dalam hati

Terpanjat segala semoga
Berpangku pada lantunan do'a
Sebagai jembatan syurga
Menghadap kepada sang Maha