Sampai pada waktuku 'kan tau
Menjaga cinta atau mengorbankannya tiada
Memilih kehilangan akan dirimu
Sungguh sesak menggertak dalam dada
Hatiku tak ingin melepaskan
Meski cinta menuju ke lain jalan
Namun memiliki juga sebuah kemustahilan
Dari apa yang bernama penantian
Bagaimana lagi kudapati kesenyamanan
Dilorong lembah ketidakpastian
Masuk bersama rindu
Atau sekedar menunggu
Ketika tak lagi ku mengerti bahasa cinta
Logika berfilsafat tentang entah
Tiada arti dan mampu akal menjamah
Demikian tanpa isyarat aku berkata
Yang kemudian ku aksarakan cinta
Dengan sekelumit lembaran cerita
Senin, 11 April 2016
"Idealisme Membunuhmu"
Hai bung!!
Jangan buang mimpimu
Dekap erat lekat jantung
Detakkan dimuka layumu
Bangun kau seperti garuda
Terbang membubung juga merdeka
Lepaskan hasrat inginkan mereka
Katakan saja, kita ada, muda pula
Kita sama-sama disini berpijak
Kerikil batu tiada akan lunak
Gagasmu diam-diam membisu
Mengurung langkah 'tuk maju
Kita harusnya begini
Kita harusnya begitu
Namun kita bukan disini
Namun kita bukan disitu
Sedang sebenarnya terbahak tawa
Karena idealismu sudah hilang jiwa
Jangan buang mimpimu
Dekap erat lekat jantung
Detakkan dimuka layumu
Bangun kau seperti garuda
Terbang membubung juga merdeka
Lepaskan hasrat inginkan mereka
Katakan saja, kita ada, muda pula
Kita sama-sama disini berpijak
Kerikil batu tiada akan lunak
Gagasmu diam-diam membisu
Mengurung langkah 'tuk maju
Kita harusnya begini
Kita harusnya begitu
Namun kita bukan disini
Namun kita bukan disitu
Sedang sebenarnya terbahak tawa
Karena idealismu sudah hilang jiwa
"Aku Dan Kamarku"
Seharian didalamnya
Bersemayam syahdu memeluk sepi sendu
Pintu berkarat tertutup sudah lama
Mengurung segala yang berdebu
Aku didalamnya menangis
Entah karena sepi gerimis
Atau suara detak jantung empas-empis
Yang penting bukan batang ini amis
Aku didalamnya bermimpi
sedang memuja cantik bidadari
Seelok itu pinggul menari-nari
Namun tak lupa mengetuk pagi
Aku didalamnya bersenandung
Tentang rindu menuju ujung
Tentang cinta setinggi gunung
Tanpa pucat muka murung
Kamarku,
Sepetak ku isi puntung
Selebihnya terserah aku
Hendak apapun tergantung
Bersemayam syahdu memeluk sepi sendu
Pintu berkarat tertutup sudah lama
Mengurung segala yang berdebu
Aku didalamnya menangis
Entah karena sepi gerimis
Atau suara detak jantung empas-empis
Yang penting bukan batang ini amis
Aku didalamnya bermimpi
sedang memuja cantik bidadari
Seelok itu pinggul menari-nari
Namun tak lupa mengetuk pagi
Aku didalamnya bersenandung
Tentang rindu menuju ujung
Tentang cinta setinggi gunung
Tanpa pucat muka murung
Kamarku,
Sepetak ku isi puntung
Selebihnya terserah aku
Hendak apapun tergantung
"Menulis Diatas Hujan"
Sial...
Lekas tuntas ku tulis namamu
Dengan ranting kering melinting
Bentar saja angin bertiup serbu
Hujan jadi sekutu tiada tanding
Sial...
Aku jadi sangat kepingin tangis
Yang undang pelukmu sadis
Rasamu salah menduga
Bukan mengusap air mata
Tapi menjilat tetes hujan
Rupamu sudah merindu
Lalu dengan hujan menyatu
Tulisan namanya yang hilang
Lekas tuntas ku tulis namamu
Dengan ranting kering melinting
Bentar saja angin bertiup serbu
Hujan jadi sekutu tiada tanding
Sial...
Aku jadi sangat kepingin tangis
Yang undang pelukmu sadis
Rasamu salah menduga
Bukan mengusap air mata
Tapi menjilat tetes hujan
Rupamu sudah merindu
Lalu dengan hujan menyatu
Tulisan namanya yang hilang
Senin, 04 April 2016
"Kamandaka Gerbong Tiga"
Duduk aku menghadap berlawanan
Setelah sudah tapaki panjang lorong
Depan belakang, kiri kanan
Mata menjalang dalam gerbong
Tiga, urutan ruang persegi panjang
Dengan penumpang tak terbilang
Aku masuk pintu sini,
Sama dia pun juga ini
O, puan, dikau rupanya
Aku tak kenal siapa
Tapi lidah suka berkata
Dia bersolek diatas wajahnya
Sempat-umpat cari-curi
Ah, ini mata ajak lari
Berpalinglah!
Menunduklah!
Setelah sudah tapaki panjang lorong
Depan belakang, kiri kanan
Mata menjalang dalam gerbong
Tiga, urutan ruang persegi panjang
Dengan penumpang tak terbilang
Aku masuk pintu sini,
Sama dia pun juga ini
O, puan, dikau rupanya
Aku tak kenal siapa
Tapi lidah suka berkata
Dia bersolek diatas wajahnya
Sempat-umpat cari-curi
Ah, ini mata ajak lari
Berpalinglah!
Menunduklah!
Langganan:
Komentar (Atom)