Jakarta mengerang
Semarang meradang
Semarang ingin bertemu
Jakarta untuk bertamu
Bukan rindu terus hidup saja
Ada aku dalam gelap remang
Menunggu datang bingkisan senja
Ia mencari jalan sendiri menjalang
Jakarta-Semarang
Jarak tiada terbilang
Berkilo meter tikar merah
Pijakan kaki tak berjumlah
Nampak tak jauh dirasa
Dekat juga kadang kadang
Menjelma mimpi pagi menjelang
Mengharap embun jadikan nyata
Jakarta-Semarang
Kekasih, aku datang!
Jumat, 11 November 2016
Kamis, 28 Juli 2016
"Surat Semalam Suntuk"
Kepada : Fifi Farizkiani
Yang terhormat,
Rembulan penguasa malam raya sejagat
Yang terhormat,
Bintang dan seluruh pasukan malam yang memikat
Ini surat cintaku
Tolong sampaikan pada kekasihku
Barangkali ia sedang rindu
Atau entah apapun itu
Malam ini aku rajamu
Esok, kau kembali ke singgasanamu
Aku hanya ingin bertaruh
Ragaku, jiwaku, bahkan seluruh
Karena memang, cintaku
Hidup disepertiga hidupmu
Yang terhormat,
Rembulan penguasa malam raya sejagat
Yang terhormat,
Bintang dan seluruh pasukan malam yang memikat
Ini surat cintaku
Tolong sampaikan pada kekasihku
Barangkali ia sedang rindu
Atau entah apapun itu
Malam ini aku rajamu
Esok, kau kembali ke singgasanamu
Aku hanya ingin bertaruh
Ragaku, jiwaku, bahkan seluruh
Karena memang, cintaku
Hidup disepertiga hidupmu
Kamis, 30 Juni 2016
"Selamat Malam"
Kepada Fi..
Segala sesuatumu sudah menyatu
Dalam kalbu sejak lama merindu
Kini jawabnya telah ku ramu
Menjadi ucapan pasca lelahmu
Sayup matamu tersenyum simpul dalam gelap
Mendamaikan kunang-kunang berpesta pora
Memandikan kelopak matamu dari kedua sayap
Seperti bulan, tak akan pernah sekalipun jera
Selamat malam, Semakin menggila aku
Tak kenal waktu mencumbuimu lewat lagu.
Lagu yang kunyanyikan seperti orang bisu
Laksana konsonan tertiup angin malu
Tidurlah kekasih,
Bila tak ingin memungut kembali perih
Mimpilah kekasih,
'tuk kenangan yang hampir letih
Segala sesuatumu sudah menyatu
Dalam kalbu sejak lama merindu
Kini jawabnya telah ku ramu
Menjadi ucapan pasca lelahmu
Sayup matamu tersenyum simpul dalam gelap
Mendamaikan kunang-kunang berpesta pora
Memandikan kelopak matamu dari kedua sayap
Seperti bulan, tak akan pernah sekalipun jera
Selamat malam, Semakin menggila aku
Tak kenal waktu mencumbuimu lewat lagu.
Lagu yang kunyanyikan seperti orang bisu
Laksana konsonan tertiup angin malu
Tidurlah kekasih,
Bila tak ingin memungut kembali perih
Mimpilah kekasih,
'tuk kenangan yang hampir letih
Rabu, 01 Juni 2016
"Serupa Tiada"
Orang pun mengira
Aku sudah terlampau gila
Berani menanggalkan yang pasti
'tuk sekedar menimbun mimpi
Mimpi yang terbentuk dari ego hati
Sekedar tiupkan kepulan asap ilusi
Yang menutup pintu menuju terang
Lompatan hari begitu bervariasi
Kadang terbang tinggi menjulang
Tak jarang jua terperosok ke jurang
Aku serupa ada dengan bentuk nyata
Aku serupa tiada yang selalu terhapus tiada
Aku sudah terlampau gila
Berani menanggalkan yang pasti
'tuk sekedar menimbun mimpi
Mimpi yang terbentuk dari ego hati
Sekedar tiupkan kepulan asap ilusi
Yang menutup pintu menuju terang
Lompatan hari begitu bervariasi
Kadang terbang tinggi menjulang
Tak jarang jua terperosok ke jurang
Aku serupa ada dengan bentuk nyata
Aku serupa tiada yang selalu terhapus tiada
Minggu, 22 Mei 2016
"Tatkala Malam"
Dijalanan aku berteriak kencang
Mengejar bulan, menghitung bintang
Jumlahnya tak terbilang angka
Indahnya tak tersirat aksara
Lalu aku membisu
Diam juga menggerutu
Terpukau melihat kemesraan
Antara angin dan gumulan awan
Hampir saja bibirku biru
Membentuk lingkaran es batu
Tersebab putaran jarum jam
Yang sedang merangkak tajam
Ketiganya seperti tak punya mata
Berdetak lurus menuju pagi buta
Mungkin mereka tau sejuknya
Hingga rela tinggalkan alam maya
Aku ingin menuliskan banyak kata
Namun karena keterbatasan bahasa
Aku hanya mampu merasakan
Kemegahan malam tanpa kebencian
Mengejar bulan, menghitung bintang
Jumlahnya tak terbilang angka
Indahnya tak tersirat aksara
Lalu aku membisu
Diam juga menggerutu
Terpukau melihat kemesraan
Antara angin dan gumulan awan
Hampir saja bibirku biru
Membentuk lingkaran es batu
Tersebab putaran jarum jam
Yang sedang merangkak tajam
Ketiganya seperti tak punya mata
Berdetak lurus menuju pagi buta
Mungkin mereka tau sejuknya
Hingga rela tinggalkan alam maya
Aku ingin menuliskan banyak kata
Namun karena keterbatasan bahasa
Aku hanya mampu merasakan
Kemegahan malam tanpa kebencian
Jumat, 13 Mei 2016
"Simposium Cinta"
Jika cinta adalah derita, bagaimana cerita bicara tentang air mata
Bagaimana cinta dapat berakar, jika rayap mampu robohkan pohon kekar
Selucu apa cinta, hingga mampu membahak tawa
Sekuat apa cinta, hingga ia lancang berani jemawa
Bukankah cinta itu malam? Gelap, dingin dan menakutkan.
Padahal, sedari dulu aku tau
Malam hadirkan mimpi selalu
Keduanya sama, cinta dan malam punya banyak keindahan.
Atau mungkin cinta adalah pengorbanan,
Karena pujangga berani habis-habisan
Dan jika cinta adalah penantian,
maka waktu menjawab dengan kepastian
Seribu puisi
Sejuta lagu
Bahkan milyaran ilusi
Sungguh tak ' kan mampu
Simposium cinta!!
Ribut karena mengartikan kata-kata
Atau rajut mempertahankannya ada
Bagaimana cinta dapat berakar, jika rayap mampu robohkan pohon kekar
Selucu apa cinta, hingga mampu membahak tawa
Sekuat apa cinta, hingga ia lancang berani jemawa
Bukankah cinta itu malam? Gelap, dingin dan menakutkan.
Padahal, sedari dulu aku tau
Malam hadirkan mimpi selalu
Keduanya sama, cinta dan malam punya banyak keindahan.
Atau mungkin cinta adalah pengorbanan,
Karena pujangga berani habis-habisan
Dan jika cinta adalah penantian,
maka waktu menjawab dengan kepastian
Seribu puisi
Sejuta lagu
Bahkan milyaran ilusi
Sungguh tak ' kan mampu
Simposium cinta!!
Ribut karena mengartikan kata-kata
Atau rajut mempertahankannya ada
Senin, 11 April 2016
"Diantara Dua Pilihan"
Sampai pada waktuku 'kan tau
Menjaga cinta atau mengorbankannya tiada
Memilih kehilangan akan dirimu
Sungguh sesak menggertak dalam dada
Hatiku tak ingin melepaskan
Meski cinta menuju ke lain jalan
Namun memiliki juga sebuah kemustahilan
Dari apa yang bernama penantian
Bagaimana lagi kudapati kesenyamanan
Dilorong lembah ketidakpastian
Masuk bersama rindu
Atau sekedar menunggu
Ketika tak lagi ku mengerti bahasa cinta
Logika berfilsafat tentang entah
Tiada arti dan mampu akal menjamah
Demikian tanpa isyarat aku berkata
Yang kemudian ku aksarakan cinta
Dengan sekelumit lembaran cerita
Menjaga cinta atau mengorbankannya tiada
Memilih kehilangan akan dirimu
Sungguh sesak menggertak dalam dada
Hatiku tak ingin melepaskan
Meski cinta menuju ke lain jalan
Namun memiliki juga sebuah kemustahilan
Dari apa yang bernama penantian
Bagaimana lagi kudapati kesenyamanan
Dilorong lembah ketidakpastian
Masuk bersama rindu
Atau sekedar menunggu
Ketika tak lagi ku mengerti bahasa cinta
Logika berfilsafat tentang entah
Tiada arti dan mampu akal menjamah
Demikian tanpa isyarat aku berkata
Yang kemudian ku aksarakan cinta
Dengan sekelumit lembaran cerita
"Idealisme Membunuhmu"
Hai bung!!
Jangan buang mimpimu
Dekap erat lekat jantung
Detakkan dimuka layumu
Bangun kau seperti garuda
Terbang membubung juga merdeka
Lepaskan hasrat inginkan mereka
Katakan saja, kita ada, muda pula
Kita sama-sama disini berpijak
Kerikil batu tiada akan lunak
Gagasmu diam-diam membisu
Mengurung langkah 'tuk maju
Kita harusnya begini
Kita harusnya begitu
Namun kita bukan disini
Namun kita bukan disitu
Sedang sebenarnya terbahak tawa
Karena idealismu sudah hilang jiwa
Jangan buang mimpimu
Dekap erat lekat jantung
Detakkan dimuka layumu
Bangun kau seperti garuda
Terbang membubung juga merdeka
Lepaskan hasrat inginkan mereka
Katakan saja, kita ada, muda pula
Kita sama-sama disini berpijak
Kerikil batu tiada akan lunak
Gagasmu diam-diam membisu
Mengurung langkah 'tuk maju
Kita harusnya begini
Kita harusnya begitu
Namun kita bukan disini
Namun kita bukan disitu
Sedang sebenarnya terbahak tawa
Karena idealismu sudah hilang jiwa
"Aku Dan Kamarku"
Seharian didalamnya
Bersemayam syahdu memeluk sepi sendu
Pintu berkarat tertutup sudah lama
Mengurung segala yang berdebu
Aku didalamnya menangis
Entah karena sepi gerimis
Atau suara detak jantung empas-empis
Yang penting bukan batang ini amis
Aku didalamnya bermimpi
sedang memuja cantik bidadari
Seelok itu pinggul menari-nari
Namun tak lupa mengetuk pagi
Aku didalamnya bersenandung
Tentang rindu menuju ujung
Tentang cinta setinggi gunung
Tanpa pucat muka murung
Kamarku,
Sepetak ku isi puntung
Selebihnya terserah aku
Hendak apapun tergantung
Bersemayam syahdu memeluk sepi sendu
Pintu berkarat tertutup sudah lama
Mengurung segala yang berdebu
Aku didalamnya menangis
Entah karena sepi gerimis
Atau suara detak jantung empas-empis
Yang penting bukan batang ini amis
Aku didalamnya bermimpi
sedang memuja cantik bidadari
Seelok itu pinggul menari-nari
Namun tak lupa mengetuk pagi
Aku didalamnya bersenandung
Tentang rindu menuju ujung
Tentang cinta setinggi gunung
Tanpa pucat muka murung
Kamarku,
Sepetak ku isi puntung
Selebihnya terserah aku
Hendak apapun tergantung
"Menulis Diatas Hujan"
Sial...
Lekas tuntas ku tulis namamu
Dengan ranting kering melinting
Bentar saja angin bertiup serbu
Hujan jadi sekutu tiada tanding
Sial...
Aku jadi sangat kepingin tangis
Yang undang pelukmu sadis
Rasamu salah menduga
Bukan mengusap air mata
Tapi menjilat tetes hujan
Rupamu sudah merindu
Lalu dengan hujan menyatu
Tulisan namanya yang hilang
Lekas tuntas ku tulis namamu
Dengan ranting kering melinting
Bentar saja angin bertiup serbu
Hujan jadi sekutu tiada tanding
Sial...
Aku jadi sangat kepingin tangis
Yang undang pelukmu sadis
Rasamu salah menduga
Bukan mengusap air mata
Tapi menjilat tetes hujan
Rupamu sudah merindu
Lalu dengan hujan menyatu
Tulisan namanya yang hilang
Senin, 04 April 2016
"Kamandaka Gerbong Tiga"
Duduk aku menghadap berlawanan
Setelah sudah tapaki panjang lorong
Depan belakang, kiri kanan
Mata menjalang dalam gerbong
Tiga, urutan ruang persegi panjang
Dengan penumpang tak terbilang
Aku masuk pintu sini,
Sama dia pun juga ini
O, puan, dikau rupanya
Aku tak kenal siapa
Tapi lidah suka berkata
Dia bersolek diatas wajahnya
Sempat-umpat cari-curi
Ah, ini mata ajak lari
Berpalinglah!
Menunduklah!
Setelah sudah tapaki panjang lorong
Depan belakang, kiri kanan
Mata menjalang dalam gerbong
Tiga, urutan ruang persegi panjang
Dengan penumpang tak terbilang
Aku masuk pintu sini,
Sama dia pun juga ini
O, puan, dikau rupanya
Aku tak kenal siapa
Tapi lidah suka berkata
Dia bersolek diatas wajahnya
Sempat-umpat cari-curi
Ah, ini mata ajak lari
Berpalinglah!
Menunduklah!
Senin, 29 Februari 2016
"Hujan Sore Tiba"
Hampir saja kulihat senja
Sore dimana orang memuja
Aurora yang terlukis diangkasa
Menyembunyi segala rasa
Lelah,
Letih,
Rindu,
Pilu.
Seluruh nampak tanpa bentuk rupa
Menyatu dalam warna merah delima
Namun keindahan
Sebelum malam menggulita
Sebatas angan sia-sia
Dikurung pekat awan.
Menggumpal, menebal,
Air menetes deras kemudian.
Mari kita nikmati ini hujan.
Sore dimana orang memuja
Aurora yang terlukis diangkasa
Menyembunyi segala rasa
Lelah,
Letih,
Rindu,
Pilu.
Seluruh nampak tanpa bentuk rupa
Menyatu dalam warna merah delima
Namun keindahan
Sebelum malam menggulita
Sebatas angan sia-sia
Dikurung pekat awan.
Menggumpal, menebal,
Air menetes deras kemudian.
Mari kita nikmati ini hujan.
Minggu, 21 Februari 2016
Ku Tunggu Kau Di Taman Cinta
Pikiranku hancur lebur terjajah
Juga mata, keduanya mengaliri nanah
Pada setiap lengkungan wajah
Putih membiru bibir yang dulu merah
Saat itu hanya lembaran daun
Berserakan bak permadani taman
Tak ada mawar dan melati anggun
Bising keramaian seperti angin bosan
Tanpa kata, tanpa jawaban
Harapan kian dalam terkubur
Beruntung rindu tetap subur
Juga mata, keduanya mengaliri nanah
Pada setiap lengkungan wajah
Putih membiru bibir yang dulu merah
Saat itu hanya lembaran daun
Berserakan bak permadani taman
Tak ada mawar dan melati anggun
Bising keramaian seperti angin bosan
Tanpa kata, tanpa jawaban
Harapan kian dalam terkubur
Beruntung rindu tetap subur
Minggu, 31 Januari 2016
"Akhir Sebuah Mimpi"
Kenapa puan tidak mengakhiri,
Perbincangan rutin kala pagi.
Bahkan sampai tak sadarkan diri.
Berlarut-larut hingga terbenam matahari.
Tunggu saja senja menutup pintu
Biar rembulan tau,
Mentari ingin lebih lama,
bersinar dikedua bola mata.
Kenapa puan tidak mengakhiri,
Rindu yang terus menggelayuti
atau, gilas habis semua mimpi
sebelum ia bertunas duri.
Sudah puan,
Hatiku tak mengapa
Tujuan,
Tak lagi bernama cinta.
Perbincangan rutin kala pagi.
Bahkan sampai tak sadarkan diri.
Berlarut-larut hingga terbenam matahari.
Tunggu saja senja menutup pintu
Biar rembulan tau,
Mentari ingin lebih lama,
bersinar dikedua bola mata.
Kenapa puan tidak mengakhiri,
Rindu yang terus menggelayuti
atau, gilas habis semua mimpi
sebelum ia bertunas duri.
Sudah puan,
Hatiku tak mengapa
Tujuan,
Tak lagi bernama cinta.
Kamis, 21 Januari 2016
"Nyanyian Sendu"
Lagu itu terdengar haru biru
Sejalan dengan waktu
Ingin ku patahkan
Tiap-tiap jarum didetakkan
Semakin berputar,
Semakin percuma.
Wajahmu masih tampak samar.
Berjuta bahasa
Beribu tegur sapa
Tak pernah terbata-bata
Lancang terus berbicara
Bahwa ada rindu, sembunyi bersama pilu.
Diujung sebuah nyanyian sendu.
Sejalan dengan waktu
Ingin ku patahkan
Tiap-tiap jarum didetakkan
Semakin berputar,
Semakin percuma.
Wajahmu masih tampak samar.
Berjuta bahasa
Beribu tegur sapa
Tak pernah terbata-bata
Lancang terus berbicara
Bahwa ada rindu, sembunyi bersama pilu.
Diujung sebuah nyanyian sendu.
Selasa, 12 Januari 2016
"Sebuah Ranting"
Hanya seperti itu ranting
Aku tak harus jadi penting
Melihat daun bercumbu embun
Bahkan sebelum menjadi ranum
Sungguh begitu anggun
Tanpa tersentak kagum
Tak pernah ia sengaja
Patah karena goresan luka
Terbentang tegak lurus
Walau pedang dihunus
Tenang, tenang,
Biar daun bergoyang
Aku sudah terbiasa
Hambar hidup tak berasa
Aku tak harus jadi penting
Melihat daun bercumbu embun
Bahkan sebelum menjadi ranum
Sungguh begitu anggun
Tanpa tersentak kagum
Tak pernah ia sengaja
Patah karena goresan luka
Terbentang tegak lurus
Walau pedang dihunus
Tenang, tenang,
Biar daun bergoyang
Aku sudah terbiasa
Hambar hidup tak berasa
Sabtu, 02 Januari 2016
"Kau dan Aku"
Kau pukul aku dari belakang,
Aku tinju kau dengan pedang.
Kau seperti pemburu usang,
Aku akan lebih jalang dari binatang.
Kau menjelma pasukan perang,
Aku ada untuk menghadang.
Kau nyalakan api kemarahan,
Aku sirami tetes perdamaian.
Kawan,
Kau lucuti aku dengan belati,
Aku tak akan melangkah pergi.
Bahu membahu mengejar mimpi
Meski tak jarang berebut nasi
Kebersamaan dilarang berhenti
Kau dan aku menunggu revolusi,
dari alam imaji menuju prestasi.
Aku tinju kau dengan pedang.
Kau seperti pemburu usang,
Aku akan lebih jalang dari binatang.
Kau menjelma pasukan perang,
Aku ada untuk menghadang.
Kau nyalakan api kemarahan,
Aku sirami tetes perdamaian.
Kawan,
Kau lucuti aku dengan belati,
Aku tak akan melangkah pergi.
Bahu membahu mengejar mimpi
Meski tak jarang berebut nasi
Kebersamaan dilarang berhenti
Kau dan aku menunggu revolusi,
dari alam imaji menuju prestasi.
Jumat, 01 Januari 2016
"Lara"
Menuai duka
Menetes air mata
Luka,
Lebam bernanah dirasa
hanya ilusi saja
Biarlah ia
Do'a,
Ribuan kata
Bahkan semoga
'tuk jadi bahgia
Menetes air mata
Luka,
Lebam bernanah dirasa
hanya ilusi saja
Biarlah ia
Do'a,
Ribuan kata
Bahkan semoga
'tuk jadi bahgia
Langganan:
Komentar (Atom)